Diduga PLN Mariana Abaikan Keluhan, Warga Jalur 11 Kembali Hadapi Tegangan Listrik Sangat Rendah
Banyuasin | Sumsel.suarana.com — Keluhan warga terkait rendahnya tegangan listrik di wilayah Jalur 11, Desa Upang, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, kembali mencuat. Kondisi ini disebut-sebut telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun hingga kini warga mengaku belum melihat adanya tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (2/10/2026), kondisi kelistrikan di wilayah tersebut bahkan dapat dinilai lebih memprihatinkan dibanding informasi sebelumnya yang sempat digambarkan warga seperti "kunang-kunang".
Sejak petang hingga sekitar pukul 22.30 WIB, sejumlah rumah warga terlihat belum dapat menggunakan penerangan listrik. Warga terpaksa mengandalkan lampu darurat, lilin, maupun mesin genset bagi yang memilikinya.
Tidak hanya itu, hingga sekitar pukul 23.00 WIB, kondisi aliran listrik yang baru mampu menyalakan lampu LED masih terpantau belum stabil. Relai otomatis pada sejumlah perangkat bahkan terlihat naik-turun, sehingga disinyalir berdampak pada peralatan elektronik tidak dapat digunakan secara maksimal.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat pada malam hari ikut terganggu. Peralatan rumah tangga seperti kipas angin, pompa air, maupun perangkat elektronik lainnya berpotensi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya ketika tegangan listrik berada pada kondisi rendah.
Keluhan mengenai persoalan ini sebelumnya juga telah beberapa kali diberitakan. Warga mengaku telah menyampaikan keluhan dan bahkan mengajukan proposal terkait kebutuhan perbaikan jaringan kelistrikan di wilayah mereka.
Ironisnya, di tengah kondisi tegangan yang disebut terus bermasalah, warga juga menyoroti adanya penertiban terhadap sejumlah meteran listrik. Sedikitnya tiga kWh meter disebut pernah ditertibkan karena pelanggan dinilai tidak menikmati pasokan listrik secara normal dan sebagian warga kemudian mencari alternatif sumber listrik.
Penertiban tersebut, menurut warga, terjadi pada 5 Agustus dan kembali pada 7 September 2026.
Masyarakat mempertanyakan kondisi tersebut karena di satu sisi pelanggan dituntut memenuhi kewajiban sebagai pengguna listrik, sementara persoalan rendahnya tegangan yang mereka keluhkan disebut belum memperoleh kepastian penyelesaian.
Warga khawatir persoalan yang tidak kunjung mendapatkan solusi justru dapat kembali menimbulkan persoalan baru, termasuk potensi pelanggaran penggunaan listrik apabila masyarakat mencari alternatif akibat tidak memperoleh pasokan listrik yang memadai.
Sejumlah warga berharap pihak PLN, khususnya unit pelayanan yang menangani wilayah Mariana, dapat memberikan penjelasan terbuka sekaligus langkah konkret terkait persoalan tegangan rendah di Jalur 11 Desa Upang.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan kepastian terkait penertiban pelanggan, tetapi juga berharap akar persoalan jaringan listrik di wilayah tersebut segera ditangani sehingga mereka dapat menikmati pelayanan kelistrikan secara normal.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak PLN terkait penyebab rendahnya tegangan listrik serta langkah penanganan terhadap keluhan warga Jalur 11 tersebut.
. Pewarta: Junaidi
